Maruto Bukan Nama Jepang

0
56

Setelah Gubernur Jendral Hindia Belanda, Tjarda S. Stahouwer, dan Panglima Ter Poorten bertekuk lutut kepada Dai Nippon di Kalijati, wilayah Hindia Belanda berada dalam kekuasaan Jepang. Masa itu saya masih di Sekolah Rakyat (SR) di Bandung. Setiap pagi saya bergegas ke sekolah, karena meski baru pukul 06.00 hari sudah agak siang. Maklum, yang berlaku jam Tokyo.

Uang Belanda pun diganti uang Jepang. Juga nama gedung, jalan, dan istilah pemerintahan. Kabupaten Bandung menjadi Priangan-Syuu, Bandun-Si, Bandun-Ken (‘n’ dibaca ‘ng’- Red.) Juga kewedanan, kecamatan, kalurahan (desa), menjadi gun, son, dan ku. Gedung Concordia jadi Dai Tooa Kaikan, lapangan Sidolig jadi Azuma. Sampai-sampai ada orang Jawa yang asli bernama Maruto disangka bapak saya bernama Marto yang dinipponkan menjadi Maruto.

Nama kota atau jalan ada yang sekadar dilafalkan menurut huruf katakana, seperti Jiyakaruta, Bandun, Tasikumaraya. Tapi ada yang langsung diganti dengan nama Jepang. Singapura jadi Syonanto. Jalan Raya Timur jadi Higashi Kita Doori.

Pergantian nama bukan menyangkut tempat saja, tapi juga merambah sampai nama hari, bulan, dan tahun Masehi. Nama tahun Masehi menjadi tahun Syowa 2605. Tahun jepang itulah yang muncul dalam teks Proklamasi Kemerdekaan kita, sehingga menjadi tahun 05 bukan 45. Untuk mengontrol opini masyarakat, pemberitaan media massa pun sangat dibatasi. Waktu itu mereka yang mempunyai pesawat radio, berduyun-duyun pergi ke Jalan Braga untuk menyegel gelombang yang bisa menangkap siaran luar negeri. Jadilah pesawat radio tersebut hanya bisa menerima siaran dari Bandung Hoso Kyoku.

Demikian pula surat kabar hanya satu yakni koran Tjahaja yang dipimpin oleh R. Otto Iskandardinata, Bratanata, dan Nitisoemantri. Majalah yang terbit di Jakarta adalah Djawa Baroe yang merupakan corong Gerakan 3 A yaitu Nippon Pemimpin Asia, Nippon Pelindung Asia, dan Nippon Cahaya Asia.

Jepangisasi di sektor pendidikan pun gencar dilakukan. Sejak di bangku SR pelajaran bahasa Jepang sudah diberikan. Di kelas tiga huruf katakana digunakan dalam cerita-cerita mitos Jepang a.l. Momotaro. Untuk siswa SMP digunakan huruf hiragana. Sementara huruf kanji untuk siswa tingkat atas.

Semua murid laki-laki harus dicukur gundul. Setiap hari selain taisho (senam) juga mokuto (memberi hormat) ke arah Tokyo di mana bersemayam P.J.M.M. (Paduka Yang Maha Mulia) Tenno Heika. Guru-guru disebut sensei, tapi kami menyebutnya engkoe dan iboe (untuk guru wanita).

Koran pemerintah Dai Nippon selalu memberitakan bahwa kemenangan terakhir ada di pihaknya. Kita orang Indonesia wajib membantu Dai Nippon. Maka dibentuk laskar Heiho, Seinendan, Keibodan, bagi para ibu Fujinkai, dan di luar Bandung ada Romusha.

Lama-kelamaan ternyata kehidupan semakin susah. Makanan, pakaian, dan obat-obatan sulit didapat, apalagi makanan impor dari luar negeri. Beras dari daerah-daerah sekitar Bandung yang akan dikirim ke kota dirampas oleh polisi dan keibodan.

Banyak orang kelaparan. Orang terpaksa menutup hidung setiap kali melewati sosok tubuh kurus dan kotor yang sudah jadi mayat, cuma ditutup tikar butut dan dirubung lalat. Di Bandung; pemandangan tak sedap itu kadang terlihat di pasar, stasiun, atau di jalan pecinan lama.

Orang Belanda yang ditahan di rumah tak kurang menderita. Makanan mereka roti jagung (karena terigu tidak ada) yang dikirim dengan pedati. Kadang-kadang dalam perjalanan roti itu diduduki si kusir pedati. Karena perang masih saja berkecamuk, dan itu berarti diperlukan besi untuk alat-alat perang, maka murid-murid SR diharuskan mengumpulkan besi bekas. Lama-kelamaan pagar besi di sekitar jembatan K.A. viaduct, pintu KA pun hilang diganti dengan kayu atau bambu. Jadi bukan perhiasan emas para ibu saja yang harus dibaktikan untuk perang Asia Tirnur Raya ini.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here